Tampilkan postingan dengan label Arti Sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arti Sedekah. Tampilkan semua postingan

Si Miskin

Al-Fuhdail bin Iyadh berkata:

يا مسكين، أنت مسئ وترى أنك محسن، وأنت جاهل وترى أنك عالم، وتبخل وترى أنك كريم، وأحمق وترى أنك عاقل، أجلك قصير، وأملك طويل.
قلت: إي والله، صدق، وأنت ظالم وترى أنك مظلوم، وآكل للحرام وترى أنك متورع، وفاسق وتعتقد أنك عدل، وطالب العلم للدنيا وترى أنك تطلبه لله.

“Wahai si Miskin! Engkau pelaku maksiat dan kamu memandang dirimu seorang yang baik, Engkau seorang yang jahil dan kamu memandang dirimu alim (berilmu), engkau seorang yang kikir dan kamu memandang dirimu dermawan, dan engkau seorang yang pandir dan kamu memandang dirimu berakal. Waktumu singkat, dan harapanmu panjang. 

Saya (Adz-Dzahabi) berkata: “Ya, Demi Allah beliau benar. Dan engkau seorang yang dzalim dan kamu memandang dirimu orang yang terdzalimi, dan kamu memakan yang haram dan memandang dirimu orang yang berhati-hati (menahan diri dari yang haram -red), dan engkau seorang fasik dan meyakini dirimu adil, dan kamu menuntut ilmu untuk dunia dan memandang bahwa dirimu menuntut ilmu karena Allah"

Sumber: Siyar Alam an-Nubalaa Biografi Fudhail bin Iyadh (8/440) (matan: Maktabah Syamilah v 3)

***


Al Fudayl ibn ‘Iyaad said,
“O Miskeen! You are an evil-doer and you think yourself to be one who does good. You are an ignoramus and you think yourself to be a scholar. You are a miser and you think yourself to be generous. O foolish one! You see that you are intelligent. Your time is short, but your hope is long.”

[Adh-Dhahabi]: I say: Yes, by Allah, he has spoken the truth. And you are an oppressor and you think yourself to be the one who is oppressed. And you eat what is unlawful and you think that you are cautious and fearful (in this regard). And you are a sinner and you think yourself to be just and upright. And you seek the knowledge (of the religion) for the world, and yet you think that you seek it for Allaah.

Source of translation: tawheedfirst.wordpress.com

Sedekah Yang Utama

Shadaqah adalah baik seluruhnya, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran shadaqah tersebut. Di antara shadaqah yang utama menurut Islam adalah sebagai berikut:

1. Shadaqah Sirriyah

Yaitu shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shadaqah ini sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:271)

Yang perlu kita perhatikan di dalam ayat di atas adalah, bahwa yang utama untuk disembunyikan terbatas pada shadaqah kepada fakir miskin secara khusus. Hal ini dikarenakan ada banyak jenis shadaqah yang mau tidak mau harus tampak, seperti membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan lain sebagainya.

Di antara hikmah menyembunyikan shadaqah kepada fakir miskin adalah untuk menutup aib saudara yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah, bahwa dia orang papa yang tak punya sesuatu apa pun.Ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam ihsan terhadap orang fakir.

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alihi wasallam memuji shadaqah sirriyah ini, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk dalam tujuh golongan yang dinaungi Allah nanti pada hari Kiamat. (Thariqul Hijratain)

2. Shadaqah Dalam Kondisi Sehat

Bersedekah dalam kondisi sehat dan kuat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan tipis harapan kesembuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Shadaqah yang paling utama adalah engkau bershadaqah ketika dalam keadaan sehat dan bugar, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan kau tunda sehingga ketika ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, "Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian." (HR.al-Bukhari dan Muslim)

3. Shadaqah Setelah Kebutuhan Wajib Terpenuhi

Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. 2:219)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Tidak ada shadaqah kecuali setelah kebutuhan (wajib) terpenuhi." Dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik shadaqah adalah jika kebutuhan yang wajib terpenuhi." (Kedua riwayat ada dalam al-Bukhari)

4. Shadaqah dengan Kemampuan Maksimal

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alihi wasallam,
"Shadaqah yang paling utama adalah (infak) maksimal orang yang tak punya. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu." (HR. Abu Dawud)

Beliau juga bersabda,
"Satu dirham telah mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya," Bagaimana itu (wahai Rasululullah)? Beliau menjawab, "Ada seseorang yang hanya mempunyai dua dirham lalu dia bersedakah dengan salah satu dari dua dirham itu. Dan ada seseorang yang mendatangi hartanya yang sangat melimpah ruah, lalu mengambil seratus ribu dirham dan bersedekah dengannya." (HR. an-Nasai, Shahihul Jami')

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, "Hendaknya seseorang memilih untuk bersedekah dengan kelebihan hartanya, dan menyisakan untuk dirinya kecukupan karena khawatir terhadap fitnah fakir. Sebab boleh jadi dia akan menyesal atas apa yang dia lakukan (dengan infak seluruh atau melebihi separuh harta) sehingga merusak pahala. Shadaqah dan kecukupan hendaknya selalu eksis dalam diri manusia. Rasululllah shallallahu ‘alihi wasallam tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuyang keluar dengan seluruh hartanya, karena Nabi tahu persis kuatnya keyakinan Abu Bakar dan kebenaran tawakkalnya, sehingga beliau tidak khawatir fitnah itu menimpanya sebagaimana Nabi khawatir terhadap selain Abu Bakar. Bersedekah dalam kondisi keluarga sangat butuh dan kekurangan, atau dalam keadaan menanggung banyak hutang bukanlah sesuatu yang dikehendaki dari sedekah itu. Karena membayar hutang dan memberi nafkah keluarga atau diri sendiri yang memang butuh adalah lebih utama. Kecuali jika memang dirinya sanggup untuk bersabar dan membiarkan dirinya mengalah meski sebenarnya membutuhkan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan juga itsar (mendahulukan orang lain) yang dilakukan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.” (Syarhus Sunnah)

5. Menafkahi Anak Istri

Berkenaan dengan ini Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Seseorang apabila menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahalanya maka dia mendapatkan pahala sedekah." ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda,
"Ada empat dinar; Satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu." (HR. Muslim). 


6. Bersedekah Kepada Kerabat

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha'. Ketika turun ayat,
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai." (QS. 3:92)

Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa Bairuha' diserahkan kepada beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak beliau. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam menyarankan agar ia dibagikan kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi tersebut dan membaginya untuk kerabat dan keponakannya.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam juga bersabda,
"Bersedakah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat maka ada dua (kebaikan), sedekah dan silaturrahim." (HR. Ahmad, an-Nasa'i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Secara lebih khusus, setelah menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan, adalah memberikan nafkah kepada dua kelompok, yaitu:

  • Anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
    ”(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS. 90:13-16)
  • Kerabat yang memendam permusuhan, sebagaimana sabda Nabi,
    "Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzai, Shahihul jami')
7. Bersedekah Kepada Tetangga

Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam surat an-Nisa' ayat 36, di antaranya berisikan perintah agar berbuat baik kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. Dan Nabi juga telah bersabda memberikan wasiat kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
"Jika engkau memasak sop maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu." (HR. Muslim)

8. Bersedekah Kepada Teman di Jalan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan seseorang untuk kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang diinfakkan seseorang kepada temannya fi sabilillah Azza wa Jalla." (HR. Muslim)

9. Berinfak Untuk Perjuangan (Jihad) di Jalam Allah

Amat banyak firman Allah subhanahu wata’ala yang menjelaskan masalah ini, di antaranya,
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah.” (QS. 9:41)

Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. 49:15)

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Barang siapa mempersiapkan (membekali dan mempersenjatai) seorang yang berperang maka dia telah ikut berperang." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Namun perlu diketahui bahwa bersedekah untuk kepentingan jihad yang utama adalah dalam waktu yang memang dibutuhkan dan mendesak, sebagaimana yang terjadi pada sebagian negri kaum Muslimin. Ada pun dalam kondisi mencukupi dan kaum Muslimin dalam kemenangan maka itu juga baik akan tetapi tidak seutama dibanding kondisi yang pertama.

10. Shadaqah Jariyah

Yaitu shadaqah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
"Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).

Di antara yang termasuk proyek shadaqah jariyah adalah pembangunan masjid, madrasah, pengadaan sarana air bersih dan proyek-proyek lain yang dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Sumber: Buletin “Ash-Shadaqah fadhailuha wa anwa’uha”, Ali bin Muhammad al-Dihami.
http://www.lazyaumil.org/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=101

Sedekah Jariyah

Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda : "Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal: amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya".
 (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad)

Berikut adalah contoh-contoh sedekah jariah: 
 ( pahala sedekah jariah akan terus mengalir walaupun si pemberi sedekah telah meninggal)

  1.  Berikan Al-Quran kepada seseorang. Setiap saat Al-Quran tersebut dibaca anda akan mendapat kebaikan.
  2. Ajarkan seseorang sebuah doa. Pada setiap bacaan doa tersebut, anda akan mendapatkan kebaikan.
  3. Sumbangkan kerusi roda ke hospital dan setiap orang sakit menggunakannya, anda mendapat kebaikan.
  4. Tanam sebuah pokok. Setiap orang atau haiwan yang berlindung di bawahnya atau makan buahnya, akan mendapat kebaikan.
  5. Tempatkan pendingin air di tempat awam.
  6. Edarkan bacaan-bacaan yang bermanfaat kepada seseorang yang boleh mengajaknya ke arah kebaikan.
  7. Libatkan diri dalam pembangunan Masjid samaada dari segi kewangan atau tenaga.
  8. Edarkan CD Al-Quran atau doa.
  9. Membantu pendidikan seseorang anak.
  10. Menyampaikan atau mengajarkan seseorang ilmu yang bermanfaat yang diamalkannya dan mereka menyampaikan kepada orang lain.

Rezeki karena sedekah

Kekayaan tidak membawa arti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya keberkatan, harta/rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Cara untuk mendapatkan keberkatan daripada Allah.
1. Bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah.
2. Belanjakan harta pada jalan yang diredhai oleh Allah.
3. Berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal
4. Keluarkan sedekah wajib (zakat) jika sampai nisab dan berikan sedekah sunat
kepada orang miskin dan anak yatim.
5. Bersedekah kepada anak yatim/miskin kalau boleh setiap hari. (cari anak-anak
yatim untuk diberikan). Insyallah akan diganti oleh Allah tanpa kita sedari.
6. Ikhlaskan pemberian/sedekah hanya kepada Allah bukan mengharapkan pujian dan
sebagainya. (Pemberian tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri). Sedekah mulakan dengan keluarga sendiri dahulu selepas itu barulah kepada jiran dan orang-orang yang lebih jauh. Jangan anggap pemberian itu hak kita sebenarnya dalam harta kita ada hak mereka.
7. Hulurkan pemberian sunat secara rahsia - tetapi pemberian wajib (zakat) perlu diberi secara terangan sebagai menegakkan syiar Islam.
8. Konsep sedekah : berikan sesuatu yang kita sayangi. Ini jelas dalam ayat Quran Ali Imran ayat 92 .
9. Cari harta dunia untuk dijadikan bekalan akhirat. (Dunia untuk akhirat - bukan dunia untuk dunia)
10. Menurut Nabi 9/10 (90%) daripada sumber rezeki ialah berpunca daripada perniagaan. Makan gaji mungkin 1/10 sahaja (10%). Nabi Muhammad sendiri sebelum diutus menjadi rasul adalah seorang ahli perniagaan yang jujur, cekap dan amanah. Peniaga yang amanah akan dibangkitkan bersama para nabi dan rasul di akhirat kelak. Perniagaan merupakan amalan fardu kifayah. Barang makanan orang Islam sepatutnya dikeluarkan sendiri oleh orang Islam. Kalau tidak ada menjalankan aktiviti ini, seluruh umat Islam berdosa.
10. Hulurkan bantuan kepada janda yang ketiadaan suami.

Bersedekah Dalam Al-Quran

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 195
Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) kerana (menegakkan) agama Allah, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan (dengan bersikap bakhil) dan baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha dan) perbuatan kamu; kerana sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 215
Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad): Apakah yang akan mereka belanjakan (dan kepada siapakah)? Katakanlah: Apa jua harta benda (yang halal) yang kamu belanjakan maka berikanlah kepada: Kedua ibu bapa dan kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang-orang yang terlantar dalam perjalanan dan (ingatlah), apa jua yang kamu buat dari jenis-jenis kebaikan, maka sesungguhnya Allah sentiasa mengetahuiNya (dan akan membalas dengan sebaik-baiknya).

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 245
Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.


Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 254
Wahai orang-orang yang beriman! Sebarkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kamu, sebelum tibanya hari (kiamat) yang tidak ada jual beli padanya dan tidak ada kawan teman (yang memberi manfaat), serta tidak ada pula pertolongan syafaat dan orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 261
Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 262
Orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan (agama) Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka belanjakan itu dengan perkataan membangkit-bangkit (pemberiannya) dan tidak pula menyinggung atau menyakiti (pihak yang diberi), mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 263
(Menolak peminta-peminta sedekah) dengan perkataan yang baik dan memaafkan (kesilapan mereka) adalah lebih baik daripada sedekah (pemberian) yang diiringi (dengan perbuatan atau perkataan yang) menyakitkan hati dan (ingatlah), Allah Maha Kaya, lagi Maha Penyabar.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 264
Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rosaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya kerana hendak menunjuk-nunjuk kepada manusia (riak) dan dia pula tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Maka bandingan orang itu ialah seperti batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin (tidak bertanah lagi). (Demikianlah juga halnya orang-orang yang kafir dan riak itu) mereka tidak akan mendapat sesuatu (pahala) pun dari apa yang mereka usahakan dan (ingatlah), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 265
Dan bandingan orang-orang yang membelanjakan hartanya kerana mencari keredaan Allah dan kerana meneguhkan (iman dan perasaan ikhlas) yang timbul dari jiwa mereka, adalah seperti sebuah kebun di tempat yang tinggi, yang ditimpa hujan lebat, lalu mengeluarkan hasilnya dua kali ganda. Kalau ia tidak ditimpa hujan lebat maka hujan renyai-renyai pun (cukup untuk menyiraminya) dan (ingatlah), Allah sentiasa Melihat akan apa yang kamu lakukan.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 267
Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.


Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 268
Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu dengan kemiskinan dan kepapaan (jika kamu bersedekah atau menderma) dan dia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji (bersifat bakhil kedekut); sedang Allah menjanjikan kamu (dengan) keampunan daripadaNya serta kelebihan kurniaNya dan (ingatlah), Allah Maha Luas limpah rahmatNya, lagi sentiasa Meliputi PengetahuanNya.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 271
Kalau kamu zahirkan sedekah-sedekah itu (secara terang), maka yang demikian adalah baik (kerana menjadi contoh yang baik) dan kalau pula kamu sembunyikan sedekah-sedekah itu serta kamu berikan kepada orang-orang fakir miskin, maka itu adalah baik bagi kamu dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebahagian dari kesalahan-kesalahan kamu dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui secara mendalam akan apa yang kamu lakukan.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 272
Tidaklah engkau diwajibkan (wahai Muhammad) menjadiKan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendakinya (menurut undang-undang peraturanNya) dan apa jua harta yang halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah dan apa jua yang kamu dermakan dari harta yang halal, akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 273
Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 274
Orang-orang yang membelanjakan (mendermakan) hartanya pada waktu malam dan siang, dengan cara sulit atau terbuka, maka mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, serta mereka pula tidak akan berdukacita.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 276
Allah susutkan (kebaikan harta yang dijalankan dengan mengambil) riba dan Ia pula mengembangkan (berkat harta yang dikeluarkan) sedekah-sedekah dan zakatnya. Dan Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang kekal terus dalam kekufuran, dan selalu melakukan dosa.

Al-Quran > Surah Al- Baqarah> Ayat 280
Dan jika orang yang berhutang itu sedang mengalami kesempitan hidup, maka berilah tempoh sehingga dia lapang hidupnya dan (sebaliknya) bahawa kamu sedekahkan hutang itu (kepadanya) adalah lebih baik untuk kamu, kalau kamu mengetahui (pahalanya yang besar yang kamu akan dapati kelak).

Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 8
Dan apabila kerabat (yang tidak berhak mendapat pusaka) dan anak-anak yatim serta orang-orang miskin hadir ketika pembahagian (harta pusaka) itu, maka berikanlah kepada mereka sedikit daripadanya dan berkatalah kepada mereka dengan kata-kata yang baik.

Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 39

Dan apakah (kerugian) yang akan menimpa mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta mereka mendermakan sebahagian dari apa yang telah dikurniakan Allah kepada mereka? Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mengetahui akan keadaan mereka.

Al-Quran > Surah An-Nisaa'> Ayat 114

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah atau berbuat kebaikan atau mendamaikan di antara manusia dan sesiapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keredaan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar

Dasyatnya Sedekah

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”
Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”
Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.


Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat). Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Pebedaan Wakaf dan Sedekah

Sedekah diberikan kepada golongan yang memerlukan manakala wakaf ditujukan bagi kegunaan seluruh masyarakat secara umum, meskipun golongan yang memerlukan diberikan keutamaan.

1. Sedekah adalah sesuatu yang boleh dipindah milik. Sesuatu harta apabila telah diwakafkan, pewakaf sudah tidak memiliki hak dan campurtangan ke atas harta tersebut.

2. Sedekah boleh diberi di dalam apa bentuk sekalipun manakala wakaf adalah terhad kepada sesuatu harta dimana harta tersebut boleh mendatangkan hasil atau menjana lebih banyak manfaat secara berterusan atau bentuk hasil yang boleh disimpan

Arti Sedekah Jariah

Sedekah jariah ini adalah pemberian yang bermanfaat dan yang baik. Paling utama adalah memberi sesuatu yang menjadi kesayangan kita atau yang setaraf dengannya, Ini ertepatan dengan firman Allah, “ Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebahagian daripada apa yang kamu sayangi. (Ali-Imraan : 92)

Dalam satu hadis, Rasulullah bertanya kepada Saidina Ali, “Wahai Ali, apa yang engkau suka dalam dunia, Ali menjawab, memberi makan apa yang aku makan.” Oleh itu, jika berniat untuk bersedekah kepada jiran, elok memberi makanan yang sama dengan yang kita makan. Contohnya, kalau beli kepala ikan, pastikan yang sedekahkan itu juga kepala ikan bukan isi ikan. Dengan kata lain, jangan kita sedekah sesuatu yang kita sendiri tidak mahu dan ia pula tidak lagi boleh digunakan atau dipakai.

Sedekah meningkatkan rezeki

Orang beriman tak takut belanja harta mereka bagi meringankan beban golongan memerlukan.

KEKAYAAN tidak membawa erti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya keberkatan, harta dan rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak serta mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Dalam satu kisah, diceritakan Nabi Ayub ketika sedang mandi tiba-tiba Allah datangkan pada lengannya. Baginda menepis dengan bajunya. Lantas Allah berfirman: “Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya? Nabi Ayub menjawab, “Ya benar; demi keagunganMu apalah makna kekayaan tanpa keberkatan-Mu”.

Kisah ini menegaskan pentingnya keberkatan dalam rezeki yang dikurniakan Allah. Cara mendapatkan keberkatan daripada Allah, antaranya:

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah.

Belanjakan harta pada jalan diredhai Allah

Berusaha cari rezeki halal

Keluarkan sedekah wajib (zakat) jika sampai nisab dan beri sedekah sunat kepada orang miskin dan anak yatim.

Bersedekah kepada anak yatim, miskin, jika boleh setiap hari. (Cari anak yatim untuk diberikan) kerana dengan izin Allah akan diganti tanpa kita sedari.

Ikhlaskan pemberian, sedekah hanya kepada Allah bukan mengharap pujian (pemberian tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri). Sedekah mulakan dengan keluarga sendiri dulu, selepas itu barulah kepada jiran dan orang yang lebih jauh. Jangan anggap pemberian itu hak kita kerana sebenarnya dalam harta kita ada hak mereka.

Hulurkan pemberian sunat secara rahsia tetapi pemberian wajib (zakat) perlu diberi secara terangan sebagai menegakkan syiar Islam.

Konsep sedekah: Berikan sesuatu yang kita sayangi. Ini jelas dalam al-Quran (surah al-Imran ayat 92).

Cari harta dunia untuk dijadikan bekalan akhirat. (Dunia untuk akhirat, bukan untuk dunia)
Amalan diberkati ialah hasil peluh sendiri dan juga melalui jual beli (perniagaan).

Menurut Nabi SAW, 9/10 (90 peratus) daripada sumber rezeki ialah berpunca daripada perniagaan. Makan gaji mungkin 1/10 saja. Nabi Muhammad SAW sendiri sebelum diutus menjadi rasul adalah seorang ahli perniagaan jujur, cekap dan amanah.
Peniaga amanah akan dibangkitkan bersama nabi dan rasul di akhirat kelak. Perniagaan adalah amalan fardu kifayah. Barang makanan orang Islam sepatutnya dikeluarkan oleh orang Islam. Jika tidak aktiviti ini, seluruh umat Islam akan menanggung dosa.

Hulurkan bantuan kepada janda yang ketiadaan suami. Dalam hadis, Nabi SAW menerangkan setiap awal pagi, ketika terbit matahari ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi.

Yang satu menyeru, “Ya Tuhanku, kurniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan harta kepada Allah.” Yang satu lagi menyeru, “Musnahkanlah orang yang menahan hartanya (lokek).”

Orang bakhil tidak manfaatkan hartanya untuk dunia dan akhiratnya. Menginfaqkan (belanjakan) harta adalah berkat, sebaliknya menahannya adalah celaka.

Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda: “Takutilah api neraka walaupun dengan sebiji tamar.” Dan sabdanya lagi: “Sedekah itu penghapus dosa seperti air memadam api.”

Jika dapat diamalkan, rezeki yang dikurniakan Allah akan kekal walaupun sudah digunakan. Allah akan membalas atau menggantikan apa yang sudah dibelanjakan. Amalkan ilmu yang ada, Allah akan menambahkan ilmu lagi. Begitu juga harta, belanjakan harta yang ada, Allah akan tambahkan lagi daripada sumber yang kita tidak ketahui.

Bersedekah itu boleh dilakukan oleh semua orang sekalipun orang itu tidak berharta. Amalan bersedekah sangat digalakkan dalam Islam, kerana bersedekah adalah lambang kesyukuran kepada Allah, pelaksanaan perintah Allah dan mempererat hubungan persaudaraan serta silaturahim sesama Muslim.

Sedekah juga adalah cara mengukuhkan hubungan antara hamba dengan Allah dan di antara hamba sesama hamba.
Firman Allah: “Wahai orang beriman, nafkahkanlah sebahagian rezeki yang kami kurniakan kepadamu, sebelum datang hari yang tiada lagi jual beli, tiada lagi persahabatan yang akrab dan tiada lagi syafaat padanya. Dan orang yang kafir itu adalah golongan zalim.” (Surah al-Baqarah, ayat 254)

Konsep bersedekah dalam islam

Sedekah adalah satu pemberian ikhlas sama ada benda itu sesuatu yang kita sayang atau tidak. Asas penting yang perlu ada adalah keikhlasan. Maknanya kita tidak mengharapkan sebarang pembalasan apabila bersedekah. Sedekah lebih menjurus kepada barang seperti makanan dan pakaian yang boleh dimanfaatkan oleh orang lain.

Wakaf pula ialah pembelian barangan untuk kegunaan masjid, surau, rumah anak yatim atau sebagainya. Contohnya, kita membeli kipas angin, penghawa dingin, tikar atau al-Quran untuk digunakan oleh masyarakat umum di premis tersebut. Saranan bersedekah ini dijelaskan oleh Allah menerusi firman-Nya, “ Kalau kamu zahirkan sedekah itu, maka itu adalah baik. Dan kalau pula kamu sembunyikan sedekah itu serta kamu berikan kepada orang fakir miskin, maka itu adalah baik bagi kamu; dan Allah akan hapuskan daripada kamu sebahagian daripada kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan.”
(al-Baqarah: 271)

Arti Sedekah

Sedekah ini fadilat utamanya ada tiga iaitu rezeki murah, dapat menolak bala dan panjang umur. Sebabnya, apabila kita bersedekah, penerimanya akan mengucapkan alhamdulillah sebagai tanda penghargaan kepada Allah dan juga kepada manusia yang memberikan sumbangan. Ini juga dijelaskan dalam hadis yang bermaksud, “ Sesiapa yang tidak mengasihani tidak akan dikasihani.”

Apabila kita bersedekah hendaklah kita mendahulukan orang yang dekat dengan kita termasuk adik beradik dan juga jiran tetangga sebelum menghulur bantuan kepada orang lain. Ini dijelaskan dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Antara lain ia menyusun keutamaan bersedekah kepada diri sendiri, isteri, anak, orang gaji dan jika masih ada sedekahlah kepada sesiapa yang memerlukan. Jika masih ada golongan fakir dan miskin di negara kita, lebih baik kita bersedekah kepada mereka sebelum bersedekah kepada penduduk luar negara.